Misteri Mawar Putih Bernoda Darah

Setangkai mawar putih, saksi bisu

Rohmad berdiri memandani sosok mayat perempuan diatas tempat tidur yang tidak menggunakan busana, hanya tertutupkan selimut putih yang sudah ternoda oleh cairan merah kental dengan setangkai bunga mawar putih ditangan kirinya. Kelopak mawar putih itu pun berhiaskan bercak-bercak merah akibat percikan noda darah yang terus saja mengalir dan belum kering dari tubuh mayat perempuan tadi.

“Bagaimana ini, apa ku telpon sekarang saja?,” Ucap laki-laki yang berbadan gempal.

“Tidak usah biar saya yang menghubungi beliau,” Ucap laki-laki kurus yang mengenakan piama abu-abu, menarik telpon genggam dari balik kantong piamanya.

Ketika laki-laki berpiama tadi berbicara, di telpon sambil berjalan keluar kamar dan bersandar di pintu kamar sebelahnya. Lelaki  berbadan gempal tadi yang ternyata adalah Manajer Hotel melangkah mendekat kearah mayat yang terlihat mengerikan. Sayang sekali gadis semuda, secantik dan sesexy ini harus mati dalam keadaan yang sangat tragis. Dia menggelengkan kepalannya.

“Aku sudah menelpon beliau, tapi aku tidak memberitahu tentang hal ini, aku hanya mengatakan bahwa beliau harus kesini karena Yolanda ada disini.”

Manajer hotel tadi berjalan dengan keringat di wajahnya. “Aku akan turun menunggu beliau di lantai bawah.”

“Ray, jangan bicara apapun tentang hal ini, aku ingin beliau mengetahuinya ketika beliau melihat dengan mata kepala beliau sendiri.”

Sebuah anggukan kepala mengahiri pembicaraan yang singkat itu. pintu lift terbuka dan beberapa detik kemudian tubuh gempal bermandikan keringat itu menghilang dari balik pintu lift yang kembali menutup.

Rohmad menutup pintu kamar tempat mayat perempuan tadi terkapar, lalu masuk ke kamar sebelahnya sambil menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada sosok wanita berambut ikal yang tidak mengenakan sehelai kain pun. Wanita itu terlihat ketakutan—tubuhnya bergetar.

Rohmad duduk disampingnya, menutupi tubuh perempuan tadi dengan selimut putih sambil berucap. “Tenanglah semuanya akan baik-baik saja,” lalu kecupan dalam, penuh nafsu tercipta diantara dua bibir yang saling menyatu.

Demi Status Sosial

Sebuah mobil berhenti di lapangan parkir yang luas tapi padat dengan mobil-mobil lain yang juga terparkir sejak beberapa jam dari tadi. Seorang laki-laki tampan dengan kaca mata hitam mengenakan baju kemeja putih rapi keluar dari mobil dan berjalan tergesa-gesa dengan sejuta pertanyaan yang masih belum ditemukannya jawabannya.

Ada apa Rohmad menelponku?.

Ada apa dengan Yolanda, anakku?.

Mengapa dia ada dihotel malam-malam begini?.

Bukankah malam ini dia menginap di rumah temannya?.

­langkah gelisah itu disambut oleh seorang laki-laki berbadan gempal yang sejak beberapa menit sudah menunggunya di depan pintu masuk. “Ikuti saya Tuan,” ucap laki-laki tadi sambil menekan tombol lift.

“Saya Ray, Manajer Hotel—.”

“Ada apa sebenarnya?.” Pertanyaan itu bernada curiga.

“Mari ikuti saya,” ucap Ray sambil keluar menyusuri lorong dan berhenti di depan sebuah kamar. Tiga kali pintu diketuk, seorang laki-laki kurus mengenakan piama keluar dari pintu tadi.

“Rohmad ada apa dengan Yolanda?.” Tanya lelaki yang baru datang dengan wajah gelisah.

Tanpa memberikan jawaban Rohmad berjalan ke pintu sebelah dan membuka pintu kamar dengan perlahan.

Kedua bola mata menegang dan mulai memerah. kacamata dilepas, sosok sang anak yang tidak lagi bernyawa terkapar mengerikan di hadapan Ayahnya sendiri. “Siapa yang melakukan ini, mengapa kalian tidak menelpon polisi?,” nada itu terdengar merengek.

“Saya juga tidak tahu siapa pembunuhnya,” ucap Rohmad sambil mendekat kearah Atasannya itu.

“Saya belum melaporkan kejadian ini pada polisi tuan, saya tidak berani mengambil keputusan sebelum anda datang,” ucap Ray pula.

Diam tak ada jawaban yang keluar dari mulut lelaki tua tampan itu

“Kita harus memindahkan tempat kejadian!,” ucap Rohmad pelan.

“Ya, aku mengerti maksudmu, tapi mengapa kau ada di sini?,” kecurigaan mulai terlihat dari wajah Aatasannya itu.

“Kebetulan saya menginap di kamar sebelah, ketika saya sedang asik disebelah saya mendengar suara teriakan, saya keluar dan melihat seorang laki-laki dengan tubuh tertutup jubah hitam dan kepala tertutup tudung jubahnya, berjalan tergesa-gesa menuju lift. Saya melihat tato di tangannya, tato itu berbentuk dua ekor naga—karena saya semakin penasaran, saya langsung mendorong pintu kamar dan terkejut ketika melihat Yolanda bersimbah darah tak bernyawa.”

“Kita lapor Polisi, tapi sebelumnya kita pindah dulu TKP-nya,” dengan sangat berat ucapan itu diucapkan oleh laki-laki tua tadi. Mengapa dengan Yolanda, setahuku dia adalah anak yang baik, pendiam dan penurut. Apa yang dilakukannya dengan laki-laki bertato itu?. Perlahan airmata itu mengalir.

Makan siang Rohmad dan Dani

Di sebuah rumah makan, Rohmad dan Dani duduk berhadapan. Dua sahabat yang memiliki pekerjaan yang sama dan bekerja di tempat yang sama itu terlihat kesal. Kejadian buruk baru saja menimpa mereka berdua serta beberapa kariyawan lainnya.

“Ku rasa Pak Irfan tidak bersikap bijak, kita kan tidak mengambil uang itu, uang itu murni hilang dari berangkas beliau, mengapa malah gaji kita yang di potong atas kejadian itu,” Keluh Dani kesal.

“Pak Irfan tidak mikir kali ya, kalau tanpa gaji kita gak akan bisa hidup kan!,” Rohmad menambahkan.

“Jika uang itu aku yang ngambil sih gak apa-apa, tapi pelakunya kan belum ketahuan. Keputusan beliau sungguh tidak masuk akal, dasar orang kaya pelit.”

“Sudahlah daripada kita di pecat nantinya, lebih baik diam saja.”

“Eh, Mat kamu kenal gak sama anaknya Pak Irfan yang namanya Yolanda itu. beberapa hari yang lalu saat aku ke hotel, aku ngeliat dia sama laki-laki, tapi sayang sekali aku gak liat jelas wajah laki-laki itu.”

“Kamu kenal dengan Yolanda?.”

“Oh, dia dulu teman satu SMA denganku, anaknya sih pendiam tapi ternyata—,” Dani tertawa.

“Wah, beruntung sekali kamu kenal sama dia, aku waktu bertamu ke rumah Pak Irfan tempo hari malah di cuekin olehnya, anaknya cantik dan sexy sih, tapi sayang kayaknya sombong.”

“Jangan salah kamu—dia itu nakal, aku aja minggu ini diajakin ke Hotel, kebetulan teman kencanku malam itu teman dekatnya, mereka mau main bertiga—,” Dani tertawa.

“Serius!!!,” Rohmad rasa tak percaya.

Dani mengeluarkan telpon genggamnya membuka sebuah kotak pesan dan memperlihatkannya kepada Rohmad, “Kau bisa membaca pesannya kan, dia juga mengirimkan foto telanjangnya,” Dani memperlihatkan lagi kepada rohmad.

“Gila, anak bos di embat juga,” ucap Rohmad sambil tertawa.

“Anaknya lebih menyenangkan dari pada bapaknya,” Dani berpendapat.

Selesai makan siang mereka berdua kembali kekantor, Dani menyetir mobil pelan sambil melipat tangan bajunya pelan. Rohmad menatap kearah Dani sambil tertawa, “Kamu memang ahlinya merayu perempuan.”

“Ah, kamu bisa aja, perasaan kamu lebih jago dari aku deh.”

Mereka berdua tertawa.

Mata Rohmad tertuju pada tangan kanan Dani yang berhiaskan tato berbentuk dua ekor naga, “Kamu bikin tato ya Dan?,” tanya Rohmad sambil mengerutkan keningnya.

Dengan cepat Dani menutupi tatonya, menarik lengan kemejanya, “Hanya tato perkumpulan biasa.”

Hasrat Cinta Palsu

Kecupan dalam, di atas tempat tidur yang semakin acak-acakan, dua sosok pasangan  sedang asik bermesraan. Bukan pengantin baru, bukan juga pasangan suami istri yang sedang berlibur, akan tetapi apa yang mereka berdua lakukan layaknya pengantin baru yang baru menghadapi malam pertama.

Kecupan liar dari bibir turun keleher, payudara hingga kepusar dan turun ke bawah lagi, membuat tubuh langsing itu meliuk-liuk bagaikan ular yang menikmati kenikmatan duniawi yang seakan membawanya kesurga.

Lalu tatapan mereka beradu mesra penuh senyum dan tenggelam lagi dalam kecupan dalam—berkali-kali penelusuran tubuh indah itu dilakukan oleh laki-laki yang semakin bernapsu dengan hasrat yang semakin dekat mencapai puncak. Ketika sudah mencapai akhir, pergerakan mereka semakin kuat, desahan semakin terdengar nyaring. Dan sampailah mereka berdua di ujung nikmat yang membuat mereka berdua bernapas ngos-ngosan dan tersenyum berhiaskan kecupan-kecupan pelan di setiap sisi wajah.

Kamar hotel jadi tenang, jendela kamar yang senghaja tidak ditutup dengan gorden menyelipkan pancaran cahaya rembulan yang terang benderang karena purnama. Laki-laki tadi menarik setangkai bunga mawar yang tergeletak di atas meja kecil disamping tempat tidur, “Kau suka mawar putih, Yolanda?.”

Senyum manis itu menerima mawar putih tadi dengan manja. “Aku lebih suka kamu daripada mawar putih ini,” ucap Yolanda sambil mencium bunga mawar putih tadi.

Beberapa menit kemudian laki-laki tadi bangkit dan mulai membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Berdiri dengan tatapan kaku kearah Yolanda yang pingsan dengan setangkai mawah putih di tangan kirinya.

“Sayang sekali, padahal kau begitu hebat di atas ranjang,” ucap laki-laki tadi sambil mengambil sebilah pisau dari balik jas abu-abu yang tergeletak di latai kamar hotel.

Dani lelaki bertato itu

Rumah itu sunyi, mungkin karena tengah malam, tapi jika dilihat dari luar rumah, ketika memasuki rumah maka akan terdengar suara teriakan dan desahan penuh napsu menghiasi ruangan tengah rumah.

Di atas shopa yang empuk dua orang itu sedang bercinta. Akan tetapi kelakuan bejat mereka itu terhenti ketika beberapa orang mengenakan pakaian seragam mendobrak pintu rumah dan mengarahkan beberapa senjata kearah dua orang yang terlihat bingung dan malu karena mereka tidak mengenakan sehelai kain pun ditubuh mereka.

Lelaki tadi disuruh mengenakn pakaian sedangkan perempuannya diberikan selimut putih untuk menutupi tubuh putih dan menggairahkan itu. Tangan laki-laki itu diborgol lalu diboyong memasuki mobil polisi yang terparkir di halaman rumah.

Seorang polisi yang duduk disamping lali-laki tadi berucap, “Dasar anak muda sekarang, tidak punya kesopanan, bahkan kemaluannya pun tidak bisa lagi merasa malu. Teman kencan malah di bunuh setelah bercinta, dasar bodoh.”

“Ada apa ini?,” pertanyaan itu bercampurkan wajah gelisah.

“Dani Subagio, seorang kariyawan, seorang maniak sex dan seorang pembunuh, kau telah membunuh Yolanda bukan, anak atasanmu, Pak Irfan.”

“Aku tidak melakukan itu?—,” Dani mem-bantah.

“Kami sudah menemukan barang bukti, pesan yang kami dapatkan ditelpon genggamnya Yolanda, apa pesan itu telah kau hapus?,” Polisi tadi tertawa. “Dasar bodoh, kau kira kami ini bodoh sehingga bisa kau kelabui.”

“Sumpah demi Tuhan aku tidak mela-kukannya.”

“Baru saja berjinah sudah berani bawa nama Tuhan—wah kau punya tato yang keren juga ya,” Polisi tadi tertawa mengejek.

Tato dua ekor naga itu ditutupi oleh Dani dibalik tubuhnya yang mulai terasa sakit. Sial. Ucapnya dalam hati.

Wanita Berambut Ikal

Sebatang rokok di nyalakannya, dengan santai dia duduk di bangku yang ada di lapangan parkir hotel yang padat. Cukup lama dia menunggu hingga akhirnya telpon genggamnya berbunyi.

Aku menunggumu dikamar 102

Perempuan tadi menghela napas panjang, Akhirnya. Ujarnya sambil memasukkan kembali telpon genggamnya ke dalam tas kecil. Lalu berjalan menuju pintu masuk Hotel.

Wajah lelaki gempal itu menatap kearah perempuan berambut ikal tadi dengan tatapan penuh nafsu. Perempuan tadi hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Berjalan menuju lift dan diam beberapa detik menunggu pintu lift membuka. Dia sendirian di dalam lift, berkali-kali dia melihat kearah jam tangannya, sudah pukul 00.05.

Langkah itu perlahan keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong hotel sambil memperhatikan nomor yang ada di pintu kamar. Kamar 102. Langkah itu terhenti. Ketika ingin mengetuk kamar tadi, perhatiannya tertuju pada pintu kamar sebelah yang tidak tertutup rapat. Langkah itu bergerak kesebelah lalu perlahan pintu didorong.

Sosok laki-laki dengan sebilah pisau ditangan menatap kearahnya dengan tatapan mengerikan. Isyarat untuk diam membuat wanita berambut ikal itu bergetar.

Laki-laki tadi mendekat kearah wanita tadi, lalu memasukkan pisau ke dalam tas yang dibawa wanita tadi. Pintu kamar ditutup dari luar lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar sebelahnya.

Tubuh perempuan berambut ikal itu bergetar ketakutan.

“Tenang saja Septi, kau kenal aku kan, aku tidak akan menyakitimu seperti itu,” kecupan mesra mulai menjalar di antara bibir yang merah itu.

“Aku mengenalmu Rohmad, aku tahu kau tidak akan melakukan hal itu padaku,” ucap Septi sambil melepaskan kancing baju Rohmad.

Tangisan Ibu Tiri

Pak Irfan menangis, begitu juga dengan istri mudanya. Anak kesayangan mereka meninggal dunia ditemukan didekat tong sampah, tak ada yang menyangka bahwa hal seburuk itu akan terjadi pada Yolanda yang pendiam dan tidak terlalu sering keluar rumah. semuanya seakan terjadi begitu saja.

Walaupun bagi Nana, Yolanda adalah anak tirinya akan tetapi dia begitu menyayangi Yolanda. Tangisnya hari itu begitu kuat, hingga kedua bola matanya terlihat membengkak.

2 hari kumudian……

Nana berjalan menyusuri lorong Hotel dan berhenti di kamar yang bernomor 103, pintu diketuknya berkali-kali, seorang laki-laki yang sangat dikenalnya membuka  pintu kamar hotel.

Kecupan mesra menyatu diantara mereka, “Di sinikah kau membunuhnya?.”

“Ya—,” lalu kecupan mereka berlanjut di atas tempat tidur yang empuk.

“Rohmad, beberapa hari tidak bertemu denganmu membuat aku rindu pada kejan-tananmu—Irfan tidak bisa membuat aku puas.”

“Bagaimana rencana kita selanjutnya?,” tanya Rohmad berbisik.

“Aku akan meracuni Irfan dan harta kekayaan itu akan jatuh ketangan kita.”

Dan malam itu pun berlalu dengan penuh cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang terlarang.[]

 

 

 

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s